Padang Bukittinggi, 4 Hari Explore Sumatera Barat

Pagi itu saya dan teman saya (Andre) hampir ketinggalan pesawat, tiket pesawat promo memang mengharuskan kita berjuang lebih dalam menyelaraskan waktu. Take off pesawat jam 05.00WIB memaksa kami harus bangun malam dan ngebut untuk mengejar waktu.

Akhirnya beberapa menit sebelum pukul 07.00WIB, kami sudah sampai di bandar udara internasional Minangkabau, Padang. dilanjutkan dengan naik Taxi dengan model Toyota Soluna tahun 2000-an, kami sampai ke pos travel yang berlokasi sekitar 10 menit dari bandara, dengan mobil elf kami melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi.

Bukittinggi (Hari ke-1), hamparan pegunungan hijau nan legendaris

Butuh waktu sekitar dua jam dengan untuk sampai di rumah Andre, di Bukittinggi. Perjalanan ini penuh dengan sponsor, karena menginap dan makan otomatis di rumah teman saya ini, dan masalah trasportasi, kijang milih ayah Andre akan menemani perjalanan kami menyusuri Bukittinggi dan Padang.

Sore harinya kami menuju ke kota Padang lagi untuk menjemput pacar Andre yang kerja disana, dengan melewati jalanan Bukittinggi yang penuh kehijauan, jurang, dinginnya udara & kabut dengan penuh harmonisasi mesra membentuk keindahan memanjakan mata.

Jembatan Siti Nurbaya

Konon sore itu Andre dan pacarnya (sebut saja uni), baru pertama bertemu setelah terakhir kali sejak SMP, saat itupun mereka beda kelas dan tidak saling mengenal. Nah, kenapa dan bagaimana sekarang mereka bisa jadian, sayapun tak tahu.

Malamnya Andre dan uni mengajak saya ke jembatan Siti Nurbaya, tempat nongkrong favorit warga Padang saat malam hari, di pinggir jalan banyak berjajar kursi dan warung dadakan yang siap menemani yang tunaasmara.

 

Bukittinggi (Hari ke-2)

Pagi, hari ke-2 rombongan ke-2 sampai di depan rumah Andre, adalah Dian, Nurul dan Rosa. rombongan tiket promo gila-nya TigerAir yang berangkat ke Padang dengan harga tiket pesawat PP hanya Rp 40.000,-. saya dan Andre sebenarnya juga mendapat harga promo, namun masih jauh di atas mereka.

Sejujurnya kami belum menyiapkan itenerary perjalanan, kita ngikut maunya Andre dan uni mau ngajak kemana aja.

Danau Maninjau

Siangnya perjalanan mengarah ke danau Maninjau (35 Km dari Bukittinngi), salah satu danau yang belum dikomersilkan di Sumatera Barat, dengan melewati jalan panjang berliku yang terkenal dengan kelok 44 (ampek puluh ampek), sampailah ke danau yang sangat indah ini.

  

 

Pantai … (entah apa namanya)

Kami sempat berdebat kecil, antara pulang atau lanjut, dengan berbekal info google map, Andre memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke sebuah pantai yang entah apa namanya, infonya 2 jam perjalanan dari danau Maninjau, namun untuk sebuah liburan itu bukan waktu yang lama.

Sesampai di pantai itu, sesuai dugaan ini bukan pantai yang ramai pengunjung, hanya hamparan perahu dan nelayan bersebaran di antara pasir.

Bukittinggi (Hari ke-3)

di hari ke tiga kami masih bermain disekitaran Bukittinggi, begitu banyak pilihan untuk dikunjungi, hingga kami bingung mau kemana dulu, kamipun menuju salah satu tempat legendaris yang terletak di pusat kota Bukittinggi.

Goa Jepang

Lubang Jepang atau goa jepang merupakan sebuah bunker yang dibangun pada saat Jepang menjajah tahun 1942. Fungsinya adalah sebagai pertahanan. Cara pembangunan Lubang Jepang dikerjakan dengan kerja paksa atau romusha. Pekerjanya berasal dari daerah Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Jumlah anak tangganya lumayan banyak dan tidak disarankan untuk para manusia yang malas berjalan.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah yang curam dan lokasinya tak jauh dari Goa Jepang, jurangnya mempunyai dalam 100 meter dan membentang sepanjang 15 km.

 

Ngarai Sianok ini mempunyai panorama alam memikat dengan banyak pepohonan hijau dan berpadu dengan tanah kecoklatan, sangat indah.

Benteng Fort de Kock

Jembatan Limpapeh

Museum Rumah Adat Baanjuang

 

Pasar Maco Bukittinggi

Belanja Kaos Kapuyuak

 

Jam Gadang

 

Kantor Bupati Bukittinggi

Padang (Hari ke-3)

Ini adalah hari terakhir rangkaian perjalanan, dan beruntungnya ternyata om-nya Rosa ternyata adalah kepala sebuah bank pemerintah yang sedang ditugaskan di Padang, jadilah perjalanan hari terakhir kami ini disponsori oleh om-nya Rosa, hahaha. Kami pun dapat servis menarik mulai dari mobil Inova, lengkap dengan driver plus lagi-lagi makan gratis. Berikut lokasi yang kami kunjungi di hari terakhir

Pantai Air Manis (Aie Manih)

Pantai Air Manis (Aie Manih) adalah tempat wisata di Padang yang paling terkenal. Disini terdapat patung legenda Malin Kundang dan dipercaya sebagai bukti bahwa legenda tersebut memang ada.

Es Durian Iko Gantinyo

Related posts

Leave a Comment